4 mins read

Gus Sholah: Kiai Abd. Hakim Mahfudz, Orang yang Selesai dengan Dirinya

Ada satu ukuran yang sering luput ketika orang menilai kelayakan seorang pemimpin pesantren: bukan sekedar seberapa tebal penguasaan kitab kuningnya, bukan pula seberapa luas jejaring politiknya, melainkan seberapa jauh ia sudah berdamai dengan dirinya sendiri. Ukuran inilah yang barangkali paling pas dilekatkan pada sosok KH. Abdul Hakim Mahfudz, atau yang akrab disapa Gus Kikin kiai yang dipercaya Gus Sholah untuk melanjutkan estafet kepengasuhan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang.

Regenerasi kepemimpinan pesantren besar seperti Tebuireng jarang berjalan sederhana. Ia menyangkut nasab, restu keluarga besar, sekaligus kesiapan pribadi calon penerus. Gus Sholah KH Salahuddin Wahid, adik kandung Gus Dur memahami betul beban itu. Sejak Januari 2016, ia mulai mempersiapkan proses suksesi dengan mengumpulkan lebih dari 200 anggota keluarga besar keturunan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Tebuireng sekaligus pendiri Nahdlatul Ulama.

Dari musyawarah itu dibentuk semacam “Majelis Songo” sembilan perwakilan keturunan KH Hasyim Asy’ari yang merumuskan kriteria calon pengasuh berikutnya. Nama Gus Kikin muncul dari proses tersebut, meski secara silsilah ia sebenarnya melompati satu generasi. Keputusan akhir tetap ada di tangan Gus Sholah, dan pilihannya jatuh pada sosok yang selama bertahun-tahun mendampinginya menerima tamu, mengurus pesantren, dan menjalani hari-hari sebagai wakil pengasuh sejak ditunjuk pada 2016 bahkan diminta tinggal di ndalem kasepuhan, rumah dinas pengasuh, sementara Gus Sholah kala itu harus bolak-balik menjalani perawatan di rumah sakit. Ini bukan pewarisan otomatis berdasarkan garis darah semata. Ini pengaderan yang diuji lewat kepercayaan harian, bertahun-tahun, sebelum akhirnya Gus Kikin resmi naik menjadi Pengasuh Tebuireng kedelapan setelah Gus Sholah wafat pada 2020.

Siapa Gus Kikin?

KH. Abdul Hakim Mahfudz lahir pada 17 Agustus 1958 di lingkungan Pesantren Sunan Ampel, Jombang pesantren yang didirikan ayahnya sendiri, KH. Mahfudz Anwar, seorang ahli fikih, tafsir, dan falak yang wafat pada 1999. Dari jalur ibu, Nyai Hj. Abidah Ma’shum, nasabnya bersambung ke Nyai Khoiriyah Hasyim, putri sulung KH Hasyim Asy’ari menjadikan Gus Kikin cicit langsung pendiri NU sekaligus pendiri Tebuireng. Dari jalur ayah, ia juga terhubung dengan Pesantren Paculgowang, menjadikannya sepupu KH Anwar Manshur, pengasuh Pesantren Lirboyo, Kediri.

Yang membuat Gus Kikin berbeda adalah jalur hidupnya yang tidak lurus-lurus amat. Setelah pendidikan agama langsung dari ayahnya dan pendidikan umum di Jombang, ia sempat menempuh akademi pelayaran dan benar-benar berlayar hampir tiga tahun sebelum menikah. Pengalaman itu, ditambah kiprahnya kelak sebagai pengusaha di sektor migas membentuknya menjadi sosok kiai dengan jam terbang manajerial yang jarang dimiliki pengasuh pesantren tradisional.

Karena Gus Kikin Orang yang Telah Selesai dengan Diri Sendiri

Di sinilah letak jawaban yang selama ini dicari banyak orang: kenapa justru Gus Kikin, bukan sosok lain, yang dipilih Gus Sholah? Pertemuan keduanya sekitar 2015 awalnya hanya obrolan seputar bisnis maklum, keduanya sama-sama bergerak di dunia usaha. Namun pada awal 2016, obrolan itu berubah arah: Gus Sholah meminta Gus Kikin bersedia menerima tongkat estafet kepengasuhan Pesantren Tebuireng. Saat Gus Kikin bertanya balik kenapa dirinya yang ditunjuk, Gus Sholah menjawab singkat, namun menjadi kunci dari seluruh proses regenerasi Tebuireng: “karena kamu (Gus Kikin) orang yang telah selesai dengan diri sendiri.”(tebuireng.online, 2020).

Jawaban itu selaras dengan cara Gus Mus memaknai istilah yang sama saat mengenang Gus Dur di haul Tebuireng bahwa orang yang selesai dengan dirinya tidak lagi sibuk mengurusi kepentingan pribadi, sehingga apa pun yang ia miliki bisa dibagikan kepada orang lain yang membutuhkan. Rupanya, jauh sebelum istilah itu diucapkan Gus Mus untuk Gus Dur, Gus Sholah telah lebih dulu memakainya untuk menilai Gus Kikin dan menjadikannya alasan utama di balik pilihannya.

Ukuran itu pula yang tampaknya dipegang banyak tokoh NU ketika menilai kepemimpinan Gus Kikin belakangan ini. Ketua PBNU Bidang Keagamaan, Gus Fahrur, misalnya, menyinggung kualitas serupa ketika menilai kepemimpinan Gus Kikin di PWNU Jawa Timur: seorang pemimpin pesantren besar yang mandiri, pengusaha sukses, dengan manajerial yang baik, dan sudah tidak lagi disibukkan oleh urusan pribadinya sendiri. (Gus.Fahrur, 2026).

Bila ukuran “selesai dengan diri sendiri” itu dipakai untuk membaca jejak Gus Kikin, polanya cukup konsisten dari kesediaannya dikader bertahun-tahun sebagai pemimpinan, hingga kesiapannya menjalankan amanah demi amanah: dari wakil pengasuh, pengasuh Tebuireng, Ketua PWNU Jawa Timur, hingga kini diusung sebagai calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU, akhir Agustus 2026 ini, di Tambakberas, Jombang.

Gus Sholah sudah tiada sejak 2020. Tapi kalimat yang pernah ia ucapkan kepada Gus Kikin itu kini menjelma semacam nubuat sekaligus wasiat: bahwa seorang pemimpin pesantren, sebesar dan seberat apa pun amanah yang dipikulnya, mesti lebih dulu selesai dengan dirinya sendiri baru kemudian layak dipercaya untuk mengurus kepentingan orang banyak.

Oleh:FA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *