6 mins read

Delapan Tokoh dalam Bursa Calon Ketua Umum PBNU

Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mulai menghangat menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Muktamar tersebut dijadwalkan berlangsung di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, pada 27-31 Agustus 2026.

Sejumlah tokoh mulai disebut dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Mereka memiliki latar belakang yang beragam, mulai dari pengurus PBNU, pengasuh pesantren, pimpinan wilayah NU, hingga mantan aktivis organisasi mahasiswa NU. Namun, seluruh nama tersebut belum dapat disebut sebagai calon resmi karena proses pencalonan tetap mengikuti mekanisme dan tahapan yang ditetapkan dalam Muktamar Ke-35 NU.

Berikut delapan tokoh yang saat ini muncul dalam dinamika bursa calon Ketua Umum PBNU:

1. KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)

Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, menyatakan kesiapan untuk maju dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.

Cicit Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari tersebut menegaskan bahwa pencalonannya bukan didorong ambisi pribadi. Keputusan itu merupakan amanah dari hasil rapat pleno gabungan PWNU dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Jawa Timur.

“Semula saya tidak ada niat untuk mencalonkan diri. Namun karena ini merupakan keputusan, penugasan, dan amanah dari PWNU serta PCNU se-Jawa Timur, maka bismillah saya siap menjalankannya,” kata Gus Kikin.

Ia memandang pencalonan tersebut sebagai bentuk pengabdian kepada NU dan warga Nahdliyin.

2. KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya)

Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menyatakan akan kembali maju sebagai calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar Ke-35 NU.

Gus Yahya mengatakan keputusannya didorong keinginan untuk melanjutkan sekaligus menyempurnakan sejumlah agenda strategis yang telah dibangun selama masa kepemimpinannya.

“Saya memang hendak mencalonkan lagi karena, pertama, saya ingin menyelesaikan agenda-agenda yang sejak awal sudah saya bangun, dan saya sekarang lebih mengerti tentang bagaimana menyempurnakan capaian-capaian yang sudah berhasil diperoleh ini,” ujarnya.

Salah satu agenda yang mendapat perhatian adalah transformasi digital dalam tata kelola organisasi NU. Sistem manajemen digital yang dikembangkan PBNU disebut mulai diterapkan hingga tingkat cabang dan sebagian Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU).

3. KH Nasaruddin Umar

Nama Menteri Agama KH Nasaruddin Umar turut muncul dalam bursa calon Ketua Umum PBNU menjelang Muktamar Ke-35 NU. Sebagai salah satu ulama nasional, KH Nasaruddin Umar memiliki pengalaman panjang dalam bidang keagamaan. Ia juga pernah menduduki sejumlah posisi strategis di pemerintahan dan lembaga keislaman. Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat pernyataan langsung dari KH Nasaruddin Umar mengenai kesiapannya untuk maju dalam kontestasi Ketua Umum PBNU.

4. KH Zulfa Mustofa

Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa menjadi salah satu tokoh yang menyatakan kesiapan apabila mendapat amanah dari struktur NU.

Ia menyatakan tidak akan menolak apabila mendapat dukungan dari PWNU dan PCNU.

“Kalau aspirasi dari cabang dan wilayah meminta, itu sangat kuat. Saya tidak bisa menolak,” ujar Kiai Zulfa.

Kiai Zulfa memiliki pengalaman panjang di lingkungan PBNU sejak 2010. Ia pernah dipercaya sebagai Ketua Lembaga Bahtsul Masail PBNU dan Katib Syuriyah PBNU sebelum kemudian menjabat sebagai Wakil Ketua Umum PBNU.

Menurutnya, seorang pemimpin NU harus memiliki pemahaman agama yang kuat sekaligus kepekaan terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

“PBNU adalah kawah candradimuka saya. Di sanalah saya belajar ushul fiqih, belajar ketelitian menulis, dan belajar cara berpikir para masyayikh,” ungkapnya.

5. KH Abdussalam Shohib (Gus Salam)

Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar, Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, juga menyatakan maju dalam bursa Ketua Umum PBNU.

Keputusan tersebut diambil setelah mendapat dawuh dari sesepuh Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri, KH Nurul Huda Djazuli, serta dukungan dari sejumlah tokoh NU.

Gus Salam mengatakan dorongan untuk maju sebenarnya telah muncul sejak Muktamar NU di Lampung. Namun, pada saat itu ia merasa belum memiliki kesiapan untuk mengemban amanah sebagai Ketua Umum PBNU.

“Sebetulnya sejak Muktamar di Lampung beberapa teman mendorong kami, tetapi kami merasa belum memiliki kemampuan untuk berkhidmah sebagai ketua umum,” tuturnya.

Kini, ia memandang pencalonan tersebut sebagai bagian dari ikhtiar untuk memberikan kontribusi terhadap perbaikan NU di tengah berbagai dinamika organisasi.

6. KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin)

Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin atau Gus Rozin menyatakan kesiapannya untuk berikhtiar maju dalam bursa Ketua Umum PBNU.

Keputusan tersebut muncul setelah mendapat dorongan dari sejumlah pihak, termasuk beberapa Ketua PCNU.

“Saya sempat berpikir lama dan akhirnya sekitar dua hari lalu, saya bersama teman-teman dan beberapa Ketua PCNU yang menghubungi saya, maka saya berikhtiar untuk berkontestasi pada Muktamar tahun ini,” ujarnya.

Gus Rozin menilai Muktamar Ke-35 NU harus menjadi momentum untuk memperkuat kembali kepercayaan warga Nahdliyin terhadap organisasi. Ia juga menyoroti sejumlah persoalan internal yang menurutnya perlu menjadi bahan evaluasi bersama, termasuk dinamika organisasi dan menurunnya daya kritis NU.

7. KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf)

Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang, KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf, menjadi salah satu tokoh yang memperoleh dukungan dari sejumlah PCNU.

Sebanyak 23 PCNU se-Jawa Tengah menyatakan dukungan kepada Gus Yusuf melalui kegiatan Lamaran Agung Maklumat Dukungan PCNU Jawa Tengah kepada KH Muhammad Yusuf Chudlori yang digelar di Aula Pondok Pesantren API Tegalrejo, Magelang.

Gus Yusuf memandang dukungan tersebut sebagai amanah yang harus dijalankan sebagai bagian dari pengabdian kepada jam’iyah.

“Bagi saya, ini bukan soal jabatan, tapi khidmah,” ujarnya.

Ia menyebut langkah tersebut juga berangkat dari keprihatinan sejumlah kiai sepuh terhadap dinamika yang berkembang di tubuh NU.

8. Hery Haryanto Azumi

Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) periode 2005-2007, Hery Haryanto Azumi, turut menyatakan kesiapan untuk maju dalam bursa Ketua Umum PBNU.

Hery mulai intens melakukan silaturahim dengan sejumlah pengasuh pesantren dan pengurus NU. Ia menyatakan siap maju apabila memperoleh dukungan dan amanah dari para kiai serta warga Nahdliyin.

“Saya melihat NU sedang mengalami krisis. Terjadi konflik yang berkesinambungan, tetapi NU tidak mampu mengambil peran karena ikut terlibat dalam konflik. Situasi inilah yang melatarbelakangi panggilan untuk ikut cawe-cawe,” katanya.

Menurut Hery, NU membutuhkan penataan ulang dalam manajemen organisasi. Transformasi, menurutnya, tidak cukup hanya menyentuh sistem administrasi, tetapi harus mencakup seluruh elemen jam’iyah.

“Perubahan tidak sekadar memperbaiki metode persuratan melalui Digdaya. Itu memang bagian dari perubahan, tetapi belum sepenuhnya merepresentasikan transformasi organisasi yang lebih modern,” ujarnya.

Dengan munculnya sejumlah nama tersebut, dinamika menuju Muktamar Ke-35 NU diperkirakan akan semakin berkembang. Meski demikian, nama-nama yang beredar dalam bursa tersebut belum seluruhnya berstatus sebagai calon resmi.

Penentuan Ketua Umum PBNU selanjutnya akan bergantung pada proses pencalonan, dukungan peserta, serta mekanisme organisasi yang berlangsung dalam Muktamar Ke-35 NU di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

oleh: F/A

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *