3 mins read

Logo Kemhan di Kapal Mewah H. Isam Bikin Heboh, Ternyata Jadi Pangkalan Mengapung

J7 Explorer, kapal pesiar ekspedisi sepanjang 120 meter, mendadak menjadi sorotan setelah logo resmi Kementerian Pertahanan Republik Indonesia terlihat jelas pada lambung kapal. Kapal berbobot 8.076 GT itu berada di kawasan perairan Papua Selatan dan diketahui merupakan bagian dari unit usaha Jhonlin Marine Transport milik pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Samsudin Arsyad atau Haji Isam.Kemunculan logo Kemhan pada kapal milik swasta tersebut memicu perdebatan di media sosial.

Sejumlah netizen mempertanyakan legalitas penggunaan simbol kementerian pada aset pribadi, termasuk kemungkinan adanya hubungan kerja sama yang dianggap perlu dijelaskan kepada publik.Akun septha_yudha bahkan mempertanyakan aspek hukum penggunaan kapal tersebut. “Gratifikasi ga jatuhnya Min?” tulisnya. Pertanyaan serupa disampaikan akun agatsia85 yang menyoroti mekanisme kerja sama antara pihak swasta dan pemerintah.

“Gak mungkin dipinjam, di kontrak, klo di pinjam gratifikasi dong,” komentarnya.

Sementara akun bullyboy.id menyindir anggapan mengenai keterbatasan anggaran negara dengan komentar singkat, “Modal dong.” Ada pula warganet yang mengaku sudah mengenal kapal tersebut karena sebelumnya kerap melihatnya berlabuh di kawasan Pulau Samber Gelap.Di tengah ramainya perdebatan, Kementerian Pertahanan akhirnya memberikan klarifikasi.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemhan RI, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, menegaskan bahwa J7 Explorer bukan aset inventaris negara. Kapal tersebut merupakan milik unit usaha Jhonlin Marine Transport.”Kapal digunakan untuk mendukung kegiatan dan mobilisasi kebutuhan program ketahanan pangan yang dilaksanakan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Wanam, Papua Selatan, serta wilayah Kalimantan dan Sumatera,” kata Rico dalam keterangan tertulis, Sabtu (15/8/2026).

Menurut Rico, pemasangan logo Kemhan pada lambung kapal menunjukkan bahwa aktivitas kapal tersebut sedang berada dalam konteks otoritas, pengawasan, dan penugasan khusus pemerintah.Penggunaan J7 Explorer juga bukan untuk kepentingan wisata. Kapal tersebut dimanfaatkan untuk mendukung operasi logistik dan mobilisasi kebutuhan strategis dalam program ketahanan pangan nasional.

Kondisi geografis Papua Selatan menjadi salah satu alasan penggunaan kapal sebagai basis operasional. Wilayah Wanam, Merauke, memiliki tantangan akses darat yang berat. Infrastruktur jalan belum memadai untuk mendukung mobilisasi personel, peralatan, dan kebutuhan logistik dalam skala besar.Karena itu, J7 Explorer dialihfungsikan menjadi semacam floating base camp atau pangkalan mengapung.

Kapal ini menjadi tempat koordinasi, akomodasi tenaga ahli, sekaligus bagian dari sistem pendukung logistik proyek di lapangan.Kapal tersebut memiliki 25 kabin dengan kapasitas hingga 50 tamu. Fasilitasnya juga mencakup landasan helikopter serta ruang akomodasi kru yang luas.

Pengoperasian kapal ini berkaitan dengan proyek pencetakan sawah berskala besar di Merauke. Proyek tersebut menjadi bagian dari agenda pemerintah untuk memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan nasional di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.Haji Isam turut mengerahkan sumber daya dalam jumlah besar. Sekitar 2.000 unit ekskavator didatangkan dari China untuk mendukung pekerjaan di lapangan. Sejumlah tenaga ahli dari China, Jepang, dan Eropa juga dilibatkan dalam proyek tersebut.”Sekitar 2.000 ekskavator didatangkan dari China. Selain itu, tenaga ahli dari China, Jepang, dan Eropa juga dilibatkan untuk mendukung pekerjaan di lapangan,” ujar Haji Isam.

Menurutnya, keterlibatan dalam proyek tersebut bukan semata-mata didasarkan pada pertimbangan bisnis. Ia menyebut proyek tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab untuk mendukung program negara dalam mewujudkan kedaulatan pangan.Proyek pencetakan sawah di Merauke diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi pangan nasional sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat Papua.

Dengan demikian, kapal mewah yang sempat memicu tanda tanya karena logo Kemhan di lambungnya ternyata memiliki fungsi berbeda dari peruntukan awalnya. J7 Explorer kini digunakan sebagai bagian dari infrastruktur pendukung operasi ketahanan pangan di wilayah terpencil.Meski demikian, penggunaan aset swasta untuk mendukung kegiatan pemerintah tetap menjadi perhatian publik. Transparansi mengenai dasar kerja sama, mekanisme penggunaan aset, serta batas kewenangan penggunaan simbol kementerian menjadi hal penting untuk menjawab berbagai pertanyaan yang muncul di masyarakat.

oleh: F/A

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *