
Lima Calon Manajer Kopdes Merah Putih Meninggal: Pelatihan Dasar Militer dianggap tidak Relevan
Surabaya– Program pelatihan dasar militer bagi calon manajer Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih kembali menjadi sorotan setelah jumlah peserta yang meninggal dunia bertambah menjadi lima orang. Berdasarkan keterangan yang disampaikan Kementerian Pertahanan, para peserta meninggal karena penyebab medis yang berbeda, mulai dari henti jantung, heat stroke, hingga komplikasi penyakit tertentu.
Peristiwa tersebut memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas sistem rekrutmen, pemeriksaan kesehatan, pengawasan selama pelatihan, serta relevansi latihan dasar militer bagi calon manajer koperasi yang pada dasarnya dipersiapkan untuk menjalankan fungsi manajerial dan pengembangan ekonomi desa.
Sebelum mengikuti pelatihan, peserta telah melalui proses seleksi administrasi dan pemeriksaan kesehatan. Namun, muncul pertanyaan apakah pemeriksaan tersebut telah mampu mendeteksi seluruh faktor risiko kesehatan yang berpotensi membahayakan peserta saat menjalani aktivitas fisik dengan intensitas tinggi. Adanya beberapa kasus kematian menunjukkan perlunya evaluasi terhadap standar skrining kesehatan, termasuk mekanisme pemeriksaan lanjutan bagi peserta yang memiliki kondisi medis tertentu.
Hingga saat ini belum ada bukti bahwa proses tes kesehatan dilakukan secara tidak sesuai prosedur, tetapi evaluasi terhadap efektivitasnya dinilai penting setelah terjadinya sejumlah kasus.
Selain itu, aspek pengawasan selama pelatihan juga menjadi perhatian. Dalam setiap kegiatan fisik berintensitas tinggi, sistem pemantauan kondisi peserta, kesiapan tenaga medis, kecepatan penanganan darurat, dan penyesuaian beban latihan merupakan faktor penting untuk meminimalkan risiko.
Sejumlah pihak mendorong agar pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap prosedur keselamatan yang diterapkan selama pelatihan.Di sisi lain, relevansi latihan dasar militer bagi calon manajer koperasi juga menjadi bahan diskusi publik. Tugas utama seorang manajer koperasi meliputi pengelolaan organisasi, penyusunan rencana usaha, pengelolaan keuangan, pengembangan pemasaran, serta pemberdayaan masyarakat desa.
Kompetensi tersebut pada umumnya lebih berkaitan dengan kemampuan manajerial, kepemimpinan, tata kelola usaha, dan pengembangan ekonomi dibanding kemampuan fisik yang bersifat kemiliteran.Karena itu, sejumlah kalangan menilai materi pelatihan sebaiknya lebih banyak diarahkan pada penguatan kompetensi yang relevan dengan tugas calon manajer koperasi.
Apabila unsur kedisiplinan dan pembentukan karakter tetap dianggap penting, pelaksanaannya dapat dirancang secara proporsional dengan mempertimbangkan latar belakang peserta sebagai masyarakat sipil, bukan prajurit militer.
Pandangan serupa juga disampaikan oleh anggota DPR yang meminta evaluasi menyeluruh terhadap pola pelatihan dan penyesuaian metode pembinaan dengan karakter peserta.Peristiwa meninggalnya lima calon manajer Kopdes Merah Putih menjadi pengingat bahwa setiap program pelatihan harus menempatkan keselamatan peserta sebagai prioritas utama.
Evaluasi yang transparan terhadap proses rekrutmen, pemeriksaan kesehatan, standar pengawasan, dan desain pelatihan diharapkan dapat mencegah kejadian serupa serta memastikan tujuan program membangun sumber daya manusia penggerak ekonomi desa tetap tercapai tanpa mengabaikan aspek keselamatan.
Adminqunisia.com
